"LIURKU" oleh Helem Pica
Liurku merembes paksa keluar
Bukan karena paha-paha mulus atau bongkahan-bongkahan tak padat-tak kenyal wanita-wanita yang terpaksa biadab. Atau, karena terbawa oleh pertarungan harga-diri antara Luna-Tari dan Ozaw.
Bukan pula oleh mimpiku akan santan Lobster yang harganya mungkin akan semahal biaya sekolah anak-anakku dalam setahun.
Melainkan liur-ku membanjir
Memikirkan betapa mudahnya bagi kita untuk bisa bangkit dari keterjatuhan ini. Hanya dengan sedikit melepas sebagian atribut kemanusiaan kita
Liur ku me-liar
Oleh halusnya kulit para pembicara-pembicara itu, yang mengutak-atik hukum sosial dan kemudian tersenyum dalam bangga menganggap itu sebagai prestasinya; betapa nanti kulit itu akan gosong.. liurku merembes keluar.
Tak berdaya ku cegah liur ku
Membayangkan teriakan-teriakan perlawanan yang menggema dari sudut lidah-bibir kasar Sang Harimau; mengoyak setelan jas manusia-manusia yang memusuhi kebinatangan.
Sebab Binatang hanya membunuh untuk makan, sementara manusia membunuh demi kulit binatang pembunuh sekalipun.
Sebab Binatang membunuh satu untuk sebulan, sementara manusia membunuh sebulan untuk satu (1). Maka liur ku pun membanjir.
Liur ku tumpah
Bersama imaji akan merah-darah yang menyembur keluar dari nadi-nadi yang terbungkus Dasi itu. Meski tak semerah tangis para pemecah batu, tak semerah mata para penghuni kolong.
Liur ku deras tak tertahankan
Oleh kemarahan massal atas tidak bertanggung-jawabnya mereka yang menjual gambar-gambar dan kertas-kertas berwarna... para pembentuk opini, memaksakan tafsir, membelenggu imaji, mematahkan demokrasi sejati yang sepatutnya bergerak di rel-rel pilihan.. lalu terbahak dengan lidah yang menjulur tak tahu malu. Semoga Dajjal pun memusuhi mereka!!! Sungguh-sungguh sangat Tidak bertanggung-jawab.
Liur ku tak harus kering
Akan kuambil busuknya, kutempelkan pada indra-indra yang hampir rusak! Kiranya mereka tahu.. betapa busuknya air liur ku.
Penulis : Helem Pica
